BLANTERWISDOM101

Akting Panggung VS Film -5

Rabu, 01 Februari 2023

Oleh: Jeremiah Comey

Dipetik dari tulisan Jeremian Comey di Bab 2 buku; The Art of Film Acting, A Guide for Actors and Directors, terbitan Focal Press tahun 2002. Diterjemah bebas oleh Eko Santosa  

Subteks (lanjutan)

Satu contoh, bagaimana seorang sutradara film, Mark Rydell, merancang blocking adegan untuk membantu aktor memunculkan subteks adalah film “On Golden Pond”. Untuk memahami bagaimana hal ini bekerja, sangatlah penting bagi Anda menyaksikan film ini dan menyimak adegan dengan dan tanpa suara.  Chelsea, dimainkan oleh Jane Fonda, datang pada saat kunjungan ke rumah musim panas orang tuanya, Norman dan Ethel, dimainkan oleh Henry Fonda dan Katherine Hepburn. Norman adalah orang yang keras, seringkali menekan, ia memiliki selera humor namun kurang bisa mengekspresikan perasaannya dengan baik. Chelsea besusah-payah berusaha mendapatkan kasih sayang dan penerimaannya. Ketika Chelsea memasuki rumah, sutradara mengambil gambar satu frame antara Chelsea dan Norman dalam close two-shot; penonton bisa menyaksikan Chelsea dengan muka penuh dan bagian belakang kepala Norman. Kita sebagai penonton memahami perasaan Chelsea yang mengharapkan kebahagiaan. Di dalam kasus ini, Jane Fonda menghadapi close-up, sebuah “usaha keras sekaligus mengagumkan” untuk jujur secara mutlak (absolut). 

INT. RUANG KELUARGA. PETANG.

CLOSE TWO-SHOT JANE FONDA. (Bagian belakang kepala H. Fonda menghadap penonton)

J. FONDA: Hello Norman.

(Dia hendak mencium, namun belum sampai bibirnya menyentuh pipi, H. Fonda menjauhkan kepalanya ke belakang. Di sini kita bisa menyaksikan rasa kepedihan yang muncul seketika. Dia melanjutkan menciumnya)

J. FONDA: Selamat ulang tahun.

(Sekali lagi ia berharap dan bahagia. Hepburn datang mendekat ke pintu dan berdiri di belakang H. Fonda dalam shot yang sama)

Berdasarkan dialog di atas pada point: lima kata, “Hello Norman”, dan “Selamat ulang tahun”, tidak terlalu merisaukan bagi aktris besar untuk melakukannya, dan memang Jane Fonda membuktikan hal itu. Ada banyak hal yang melibatkan emosi dalam adegan tersebut, dan Jane Fonda sebagai Chelsea, menunjukkan kepada penonton bagaimana perasaannya. Ia bahagia karena berjumpa dengan ayahnya, dan ini terlihat jelas melalui perasaannya yang begitu berharap untuk diterima sang Ayah dengan kebahagiaan meskipun ia merasa dikecewakan di masa lalunya. Ketika Norman menarik kepalanya ketika Chelsea hendak mencium, penonton menyaksikan, dalam waktu sekejap, hal itu melukai hati Chelsea. Lalu kemudian Chelsea kembali pada perasaan bahagianya dalam waktu sekejap ketika Norman mengucapkan dialog berikut.

CLOSE-UP, H. FONDA.

H. FONDA: (kepada Hepburn) Lihatlah gadis kecil kita yang tembem, Ethel.

Rydell melakukan blocking pada adegan ini agar Jane Fonda menghadap penonton secara close-up melewati punggung Henry Fonda. Penonton melihat dengan jelas apa yang sebenarnya terjadi dalam diri Chelsea. Dengan belakang kepala menghadap penonton dari sisi kanan depan, maka penonton dapat melihat gerakan Norman yang menarik kepalanya dan memahami apa maksudnya. Jika Jane Fonda tidak dapat mengantisipasi hal ini dengan baik, maka adegan itu akan tampak kaku, namun ia melakukan itu bagaikan sebuah pengalaman natural yang apa adanya sehingga penonton dapat memahami perasaan keduanya. Apa yang dilakukan Jane Fonda sangat impresif. Adegan ini merupakan adegan film yang baik dan dapat digunakan oleh aktor atau sutradara sebagai studi.

baca juga : Akting Panggung vs Film -4 

Di atas panggung hampir tidak mungkin bagi penonton merasakan intimasi yang intens seperti halnya di film. Adegan yang sama dapat dikerjakan oleh aktor secara efektif di atas panggung namun tidak sama usahanya sebagaimana close-up dalam film. Chelsea memeluk ayahnya, yang dalam sekejap merasa enggan sebelum akhirnya melakukannya. Dialog dan gerak-gerik tubuh menjadi penanda perasaan aktor, seperti terlihat ketika ayah Chelsea, tidak saja menarik kepalanya ketika hendak dicium tetapi juga enggan sebelum membalas pelukan. Apa yang dilakukan aktor pada adegan semacam ini di atas panggung adalah memperlihatkan perasaan tak enak dan enggan dalam memeluk secara proposional seperti yang dikehendaki lakon, namun powernya tidak sama dengan close-up di film, untuk itu diperlukan dialog Norman, “Lihatlah gadis kecil kita yang tembem, Ethel”, untuk memberikan pengaruh kuat dalam adegan. Di dalam adegan film, dampak terasa tebih cepat, ketika saat close-up penonton melihat emosi Chelsea begitu intim sehingga seolah-olah mereka seperti sedang mengintip kondisi itu tanpa sengaja, sebagaimana yang dilakukan oleh kamera.

Di atas panggung, seorang aktor melakukan response dengan keyakinan bahwa semua penonton menyaksikannya. Nuansa subteks tidaklah teramati, terutama bagi penonton yang duduk dibarisann kursi bagian belakang. Dalam lakon, subteks, atau kehendak tersembunyi penulis, datang dari teks. Pada film, subteks secara jelas tersampaikan kepada penonton melalui pengalaman emosi para aktor ketika menjalin hubungan dengan aktor lain. Aktor panggung harus mencermati kehendak penulis lakon melalui interpretasi atas emosi yang ada di sebaliknya, yang tersurat atau tersirat dalam kalimat dialog. Eugene O’Neil mencoba menyampaikan subteks kepada penonton dalam lakonnya “Stranger Interlude”, melalui tokoh yang menyatakan pikiran dan perasaan jujurnya ke dalam wicara menyamping (aside) kepada penonton. Lakon ini menarik, namun aside (wicara menyamping) tidaklah efektif dan menonjol sebagaimana halnya close-up dalam film.

Semua akting di dalam film terlihat di dalam close-up. Dalam pengambilan gambar sudut lebar, setiap orang dapat terlihat meyakinkan ketika mengeluarkan pistol atau melemparkan bantal sofa. Namun saat adegan seseorang butuh uang, maka dilakukan close-up agar kamera menangkap emosi aktor. Anda tidak akan dapat menyembunyikan apapun karena kamera akan melihat segalanya – ketakutan, kegembiraan, keraguan, rasa kurang percaya diri, kegugupan, dan apapun yang ada dan terjadi dalam diri Anda. Di dalam film Anda tidak bisa berakting “jatuh cinta”, Anda harus benar-benar “jatuh cinta”. Sanford Meisner berkata bahwa sumber terbesar kreativitas aktor adalah konsentrasi terhadap perhatian di luar diri sang aktor. Jalan menuju sumber kreatif ni adalah konsentrasi terhadap aktor lain. Kamera akan merekamnya.

Beberapa aktor panggung yang bagus memainkan bagian yang tidak mengungkapkan jati diri, sementara di film, beberapa aktor yang mungkin tidak terlalu bagus memiliki kualitas untuk mengungkapkan jati diri (Paul Mazursky).

==== bersambung ====


Share This :

0 komentar