BLANTERWISDOM101

Antara Makna dan Budaya Kerja: Catatan tentang Tata Panggung - 2

Rabu, 23 Maret 2022

 


Oleh: Eko Santosa

1. Konsep yang Bukan

Konsep tata artistik panggung seperti yang dikemukakan Appia dan Craig menjadi penanda bahwa kerja tata panggung bukanlah kerja mudah. Mulai dari menerima lakon yang akan dipentaskan, penata panggung sudah harus membuat konsep ruang termasuk di dalamnya peranti dan perabot serta pernak-pernik hiasan yang bakal digunakan. Dalam pandangan Appia dan Craig, kerja tata panggung tidak hanya sekedar berurusan dengan menghias panggung tetapi juga mesti mempertimbangkan pencahayaan, serta gerak-gerik pemain. Oleh karena itu, konsep tata panggung mesti dibuat dengan mempertimbangkan tampilan secara menyeluruh. Perhitungan arah datang cahaya, luasan area cahaya, bentuk, warna dan komposisi benda mesti serasi dengan laku aksi pemain di atas pentas. Hal ini perlu menjadi perhatian jika ingin menghadirkan makna pada karya tata panggung yang dihasilkan.

baca juga : Antara Makna dan Budaya Kerja: Catatan tentang Tata Panggung - 1

Di dalam tata kerja teater profesional yang semua lini dikerjakan para profesional, tata panggung adalah pekerjaan berskala besar dalam konteks artistik pertunjukan. Bahkan, penata panggung profesional dapat mempengaruhi proses pemaknaan atas lakon yang disajikan. Artinya, penonton tidak hanya akan disuguhi permainan para aktor namun juga diperkuat dengan eskspresi tata panggung sehingga emosi yang ditampilkan pemain menjadi lebih kuat. Bahkan dalam skala adegan, apa yang tidak tersampaikan oleh para aktor dapat diungkapkan oleh tata panggung sehingga makna tersirat adegan dapat ditangkap oleh penonton. Untuk sampai pada taraf semacam ini, seorang penata panggung mesti banyak pengalaman terlibat dalam berbagai produksi teater. Menyampaikan makna melalui tata panggung merupakan pekerjaan yang melampaui teknis tata panggung itu sendiri.

Akan tetapi, pekerjaan teknis tata panggung seringkali menjadi patokan awam. Artinya, seseorang yang mampu menciptakan berbagai macam perabot untuk tata panggung telah dianggap memiliki kemampuan sebagai penata panggung. Dalam hal ini, pendapat awam masih perlu dilengkapi dengan diperlukannya kemampuan artistik bagi seorang penata panggung. Terampil secara teknis membuat meja dan kursi belum menggambarkan kemampuan seseorang menata ruang berdasarkan keserasian. Ditambah lagi dengan psikologi adegan di mana ruang tamu menjadi latar peristiwa. Sampai pada tahap ini, kemampuan teknis bukanlah satu-satunya kemampuan yang mesti dimiliki oleh seorang penata panggung. Seharusnya begitu. Namun, anggapan awam mengenai penata panggung, diamini oleh sebagian pelaku teater. Bermula dari mendesaknya kebutuhan hingga sampai pada penilaian bahwa, memang keterampilan teknislah yang paling penting dimiliki oleh penata panggung. Apalagi jika semua desain atau rencana tata panggung itu telah ditentukan oleh sutradara berdasarkan lakon yang akan dimainkan. Dengan demikian, penata panggung tinggal mewujudkan benda-benda yang diperlukan dan ditata sesuai gambar yang sudah ada.

Hal seperti itu berikutnya menjadi kebiasaan sehingga penata panggung adalah orang yang kerjanya terkait dengan perkara teknis benda-benda yang disusun-tata di atas panggung. Bahkan ketika pada akhirnya, penata panggung mampu membuat gambar sendiri, dengan arahan dari sutradara, pekerjaannya pun tak lain adalah teknis. Ketika konsep diperlukan dalam penataan panggung, karena kebiasan semacam ini, maka gambar rancangan sudah dianggap sebagai konsep. Padahal gambar tersebut hanya berupa terjemahan teknis dari kebutuhan ruang, perabot dan benda yang telah tertera pada lakon. Bagaimana ruang beserta benda-benda di dalam dan di sekitarnya berada dalam kaitannya dengan makna lakon, karakter orang-orang yang ada di dalamnya, serta psikologi peristiwa yang terjadi tidak terdesain dan ternarasikan dengan baik. Seolah-olah gambar yang dibuat adalah segalanya. 

=== bersambung ===


Share This :

0 komentar