BLANTERWISDOM101

Anekarupa Teater dalam Lomba - 2

Kamis, 22 Juli 2021


Oleh: Eko Santosa

2. Teater Juri

Ajang lomba teater, sebenarnya, bukan hanya merupakan arena pertemuan karya dan pekarya. Jika tidak ada orang yang berjuluk Juri di dalamnya, bisa saja agenda pertemuan itu menjadi lebih cair dan penuh kegembiraan. Namun, tanpa kehadiran Juri bisa juga pertemuan itu dianggap biasa saja sebagaimana acara kumpul-kumpul komunitas. Apa yang membuat kehadiran Juri sangat berpengaruh dalam lomba? Tentu saja karena keputusannya menentukan siapa yang berhak mendapatkan gelar pemenang (lebih unggul dari yang lain) dan hadiah-hadiah yang menyertainya. Karena itulah kehadiran Juri sangat penting.

Secara umum dan berdasarkan pengalaman, Juri lomba teater merupakan seniman atau akademisi seni yang cukup dikenal karena pengalaman dan ilmunya. Selain itu, seorang Juri akan dihadirkan tidak hanya dalam sekali ajang perlombaan. Bahkan ada Juri yang seolah-olah menjadi Juri tetap dalam sebuah lomba. Faktor Juri ini seringkali dimanfaatkan oleh peserta di mana mereka mencoba mencari-cari selera Juri tersebut terhadap sebuah karya. Banyak cara yang dilakukan mulai dari memantau produksi yang pernah dilakukan, pemilihan juara dalam beberapa kali penyelenggaraan lomba, mengundangnya untuk memberikan workshop, dan banyak lagi yang dilakukan. Nah, ketika selera Juri ini diketahui, maka peserta akan menciptakan karya berdasarkan hal tersebut.

baca juga : Anekarupa Teater dalam Lomba - 1

Pada titik ini, pekarya atau pelatih sebuah kelompok teater yang mengikuti lomba memang menghendaki timnya menjadi. Konsepsi artistik dalam karya kemudian disesuaikan dengan selera Juri. Meskipun sesungguhnya anggapan bahwa selera Juri dapat diketahui belum sepenuhnya tepat, namun hal tersebut sudah diyakini, maka garapan teater pun diarahkan kesana. Dari beberapa pengalaman, peserta ada yang memang merasa yakin dengan selera Juri dan mengarahkan karyanya ke sana dan memang kemudian terbukti keluar sebagai juara. Lalu ketika peserta lain pada akhrinya mengetahui hal tersebut, maka mereka akan menganggap bahwa teater pemenang adalah teater (selera) Juri.

Namun, apakah pengalaman semacam ini dapat dijadikan acuan dasar? Tentu saja tidak. Seorang Juri meskipun memiliki selera, tentu tidak akan serta-merta menentukan kualitas karya peserta berdasarkan seleranya saja. Banyak aspek dalam sebuah lomba teater yang dapat dijadikan rujukan penilaian. Karya yang memenuhi selera belum tentu memiliki nilai baik dalam setiap aspeknya. Persis seperti grup sepakbola yang bermain cantik dan membuat kagum banyak orang namun tidak bisa menang karena tidak bisa menyarangkan satu golpun dan bahkan gawangnya kebobolan. Sementara kesebelasan lain, bermain pragmatis namun malah bisa menghasilkan gol dan mampu menjaga gawangnya dengan baik. 

Memenuhi selera Juri, secara umum juga sedikit sulit diwujudkan karena jumlah Juri selalu lebih dari satu. Artinya, jika ada 3 orang Juri, maka peserta tersebut harus memenuhi selera ketiganya. Di dalam seni teater (dan seni lainnya), selera sangatlah subjektif. Bahkan dalam taraf tertentu tidak bisa terjelaskan dengan baik aspek-aspeknya sehingga antara orang satu dengan yang lainnya bisa dipastikan berbeda. Untuk itu, memenuhi selera lebih dari satu orang tidaklah mudah. Selain itu, ditinjau dari segi estetika, membuat karya hanya demi memenuhi selera orang tertentu dianggap justru menjauh dari nilai seni. Namun demikian, dari sisi lain, terutama pada kebanyakan peserta lomba, merebut kemenangan adalah hal yang utama sehingga nilai estetika bisa dipinggirkan untuk sementara. 

Jika dipandang dari sisi Juri, selera artistik terhadap satu karya memang akan muncul. Dan hal semacam ini jika tidak dikendalikan akan mempengaruhi penilaian, yang tentu saja subjektif. Akan tetapi, hal itu belum atau bahkan tidak bisa dijadikan acuan. Sebab, objektivitas penjurian memang ditentukan dari akumulasi subjektivitas para Juri. Karena itu, setiap Juri dapat menentukan tinggi-rendahnya skor untuk setiap aspek penilaian. Jika setiap juri memiliki interest yang berbeda-beda, maka skor untuk aspek-aspek yang dinilaipun pasti akan berbeda. Dari sisi inilah, menyandarkan karya hanya pada selera Juri pada saat lomba belum tentu membawa hasil optimal. Aritnya, jika ada seorang peserta yang mencoba mendekatkan karyanya dengan selera Juri dan kemudian berhasil tampil sebagai pemenang, maka bisa dipastikan bahwa memang karya yang ia sajikan memenuhi kriteria setiap aspek penilaian yang ada. Karena aspek penilaian yang ditentukan merupakan ukuran sebuah karya dianggap sebagai karya yang baik dalam lomba tersebut dan hal itu berada di atas selera Juri. Oleh karena itu, memenuhi selera Juri dalam lomba boleh saja, namun aspek-aspek penilaian yang biasanya terkait langsung dengan kualitas artistik tidak boleh ditinggalkan.

==== bersambung ====


Share This :

0 komentar