BLANTERWISDOM101

Akting Panggung VS Film - 3

Rabu, 18 Januari 2023


Oleh: Jeremiah Comey

Dipetik dari tulisan Jeremian Comey di Bab 2 buku; The Art of Film Acting, A Guide for Actors and Directors, terbitan Focal Press tahun 2002.
Diterjemah bebas oleh Eko Santosa 

Satu Penampilan Terbaik

Untuk akting di depan kamera, Anda hanya perlu menampilkan yang terbaik sekali saja, Anda dan sutradara berkonsentrasi untuk mendapatkan yang terbaik tersebut. Anda mungkin memperolehnya pada pada satu kali pengambilan gambar, atau Anda harus melakukannya beberapa kali pengambilan gambar sebelum sutradara akhirnya memutuskan bahwa Anda telah menampilkan yang terbaik. Tugas Anda adalah bermain peran selaras dengan konsep Elia Kazan, “pencobaan yang keras dan mengagumkan”, untuk close-up. Sekali penampilan terbaik Anda, “masuk”, maka hal itu akan terabadikan dalam film dan Anda tidak perlu melakukannya lagi. Berbeda dengan akting di panggung, penonton film akan selalu dapat menangkap penampilan terbaik Anda. Oleh karena itu, bersumpahlah untuk memberikan yang terbaik.

Penampilan terbaik Anda dalam film berasal dari sebuah adegan yang terlihat hidup, yang mungkin atau bisa juga tidak, telah direncanakan atau diperkirakan oleh Anda dan sutradara. Anda mungkin atau bisa juga tidak bermain dalam seluruh adegan pada satu kali waktu, tergantung berapa lama dan bagaimana sutradara merencanakan pengambilan gambarnya. Bisa dipastikan Anda akan melakukan beberapa kali pengambilan gambar dalam adagen baik secara close-up ataupun dari sudut lainnya. Ketika suradara film meneriakkan “Cut and print” dan kemudian meminta penambahan pengambilan gambar dari adegan yang sudah selesai Anda lakukan, itu tidak dimaksudkan untuk mengulangi, meskipun penampilan Anda sangat birilian. Sutradara dalam hal ini mencoba sekali lagi untuk sesuatu yang ia harapkan bisa lebih menambah dari apa yang sudah berjalan secara brilian.

Di dalam film, tidak melakukan latihan bukan berarti tidak mempersiapkan atau tidak memahami cerita. Ketika sutradara film mengatakan bahwa ia tidak pernah melakukan latihan, ia berpedoman pada relasi dialog dan emosi. Anda dan sutradara melatihkan blocking dan pergerakan kamera, tetapi permainan sesungguhnya adalah ketika dialog, emosi, dan reaksi muncul dengan segar dan tak terlatihkan dan aktor saling berhadapan satu sama lain di ketika kamera merekam. Hal ini akan sebanding dengan akting di panggung hanya ketika pentas malam pertama itulah yang menjadi ajang latihan para aktor. Anda tidak akan melihat hal semacam itu dilakukan di teater, dan saya pikir Anda akan sangat sulit untuk menemukan sebuah produksi teater profesional yang menjadikan malam pertama pentas sebagai ajang latihan satu-satunya.

Baca juga : Akting Panggung vs Film - 2

Proyeksi

Di dalam film, Anda akting untuk kamera dan mikropon, yang memiliki tujuan merekam segala hal yang Anda lakukan dan katakan dengan tingkat sensitivitas tinggi. Tidak sampai beberapa lama, penonton akan melihat apa yang anda tampilkan secara personal di depan kamera. Teman Aktor saya, tidak memperhatikan bahwa kamera dan mikropon yang begitu dekat dengannya telah memproyeksikan suara dan aksinya. Di dalam layar ia berkata seolah ia berbicara dengan orang lain yang ada di seberang area. Jika ia sedang bermain di atas panggung, maka suaranya akan terdengar bagus. Di dalam film, suaranya yang lantang akan terproyeksikan ketika berbicara kepada orang yang berdiri hanya empat belas inci darinya, tentu saja hal ini jelas akan terlihat konyol. Di dalam flim, kamera dan mikropon berada sangat dekat dengan Anda, sedekat kekasih yang Anda bisiki, jadi Anda tidak perlu memproyeksikan suara dan aksi Anda. Untuk meghindari terlihat amatir, bicaralah secara natural tanpa proyeksi.

Syarat utama seorang aktor adalah kemampuan untuk tidak melakukan apapun dengan baik, yang mana hal ini tak semudah yang dikatakan (Alfred Hitchcock).

Close-up di Teater dan Film

Ketika Anda duduk di deretan bangku depan kursi penonton teater, Anda dekat dengan para aktor dan dapat melihat mereka, hal ini mungkin dapat disebut sebagai close-up versi panggung, namun situasinya sama sekali berbeda dengan close-up di film. Di deretan kursi depan, Anda dapat memperhatikan kekerasan suara yang diproyeksikan aktor, tegangan leher dan otot tenggorokan serta cipratan ludah kecil aktor yang tersinari lampu. Secara kontras, close-up di film menampilkan kepada Anda realitas sesungguhnya dengan level normal interaksi manusia. Sangatlah mudah mengatakan apa yang mesti Anda lakukan dari akting panggung ke akting film adalah apa yang disebut aktor sebagai “broad” (besar/kasar) dalam pengambilan gambar yang lebar dan subtil dalam close-up. Hal itu tidaklah benar. Di dalam close-up, Anda tidak hanya harus subtil tetapi juga nyata, karena di dalam close-up inilah apa yang dikatakan Kazan sebagai “usaha keras sekaligus mengagumkan” mengambil peranan. Kamera menangkap apapun dan menghendaki kejujuran absolut. Jika Anda takut atau tegang atau marah atau berkeringat meskipun hanya setitik, kamera akan menangkapnya. Kamera akan memperlihatkan ketaknyamanan Anda, kejujuran Anda, kehampaan Anda, keterlibatan Anda, emosi Anda. Anda harus benar-benar berada “di sana”. Kamera akan melihat Anda sesungguhnya pada saat itu. Seorang guru akting film yang baik akan mengajari Anda bagaimana cara terbaik menghadapi hal tersebut.

Film adalah medium citra dan close di dalam film di mana Anda berperan secara dengan segenap emosi merupakan citra tak yang terkatakan meskipun pada saat yang sama Anda mengucapkan kalimat dialog. Jika Anda tidak mengalami emosi yang terstimulasi oleh aktor lain dan suasan, maka adegan yang yang ditampilkan terasa mati. Emosi Anda, bukan kalimat dialog Anda, yang mengkomunikasikan apa yang sesungguhnya sedang terjadi.

==== bersambung ====


Share This :

0 komentar