BLANTERWISDOM101

Akting Panggung VS Film - 2

Rabu, 11 Januari 2023

Oleh: Jeremiah Comey

Dipetik dari tulisan Jeremian Comey di Bab 2 buku; The Art of Film Acting, A Guide for Actors and Directors, terbitan Focal Press tahun 2002.
Diterjemah bebas oleh Eko Santosa  

Menyiapkan Peran

Untuk Peran di atas panggung, Anda meluangkan banyak waktu untuk melatihkan segala apa yang akan Anda lakukan pada setiap malam sepanjang pementasan. Anda dan sutradara merencanakan gerak, arah laku, dan aksi untuk memastikan bahwa Anda dan aktor lain tidak saling bertabrakan sehingga Anda selalu berada di area yang tepat pada saat yang tepat. Hari demi hari, Anda melatihkan penampilan, kapan masuk, kapan keluar, ketepatan waktu, dan semua bisnis akting. Anda menyiapkan realitas yang akan Anda ulangi pasa setiap malam, setiap pementasan dilangsungkan. Di dalam film, semuanya berbeda.

Aktor Tom Hanks, dalam sebuah wawancara TV, menjelaskan bagaimana ia biasanya menghabiskan waktu sebelum akting dalam adegan film dengan melakukan analisis adegan, menandi poin-poin penting, mengidentifikasi beat (satuan aksi terkecil), menentukan pilihan ekpresi, merencanakan apa yang akan ia lakukan pada setiap baris kalimat dialog, dan menentukan bagaimana ia mesti bergerak menggunakan perasaan. Kemudian, pada saat ia berada di lokasi syuting keesokan harinya, sutradara membuatnya membuang segala hal yang telah ia rencanakan, dan memintanya untuk tampil berdasarkan relasi dengan aktor lain. Frank Sinatra selalu menolak untuk melatihkan penampilannya. Laurence Olivier berkata, dalam pembuatan film Wuthering Heights, sutradara William Wyler berkata padanya untuk saling terhubung dan bukannya melakukan “akting”. Gene Hackman berkata bahwa ia mempelajari baris kalimat dialog di luar kepala tanpa perencanaan apapun, menahan diri untuk bereaksi emosional, sehingga selama pengambilan gambar ia dapat tampil berdasarkan bagaimana ia terhubung dengan aktor lain. Meryl Streep berkata bahwa ia biasanya membaca naskah sekali dua kali dan kemudian tampil dengan berdasarkan jalinan dan hubungan dengan aktor lain. Steven Spielberg berkata dalam sebuah interview yang diselenggarakan Actor’s Studio bahwa ia tidak pernah menyelenggarakan latihan karena ia tidak ingin para aktornya “berakting”.

Baca juga : Akting Panggung vs Film -1 

Tuntutan Penampilan

Di dalam pementasan teater panggung Anda telah tahu apa yang akan Anda lakukan sejak pertama kali menapakkan kaki di panggung sampai tirai turun. Anda seringkali berbuat berdasarkan emosi aktor lain, tetapi intimasi dan kejujuran tidak selalu menuntut Anda. Ketika layar terangkat naik, tidak ada alasan untuk menoleh ke belakang. Anda harus tahu rangkaian kalimat dialog, pergerakan, bisnis akting, dan interpretasi; dan Anda berada di bawah tekanan untuk menunaikan tugas ini sampai pertunjukan berakhir. Dalam beberapa malam pertunjukan Anda tampil brilian, malam lainnya kurang begitu brilian, dan tidak ada yang dapat dikerjakan selain melakukan pendekatan untuk pertunjukan berikutnya melalui harapan, ketetapan hati, dan semangat.

Di dalam film, Anda diminta untuk memeragakan peran tidak lebih dari satu kali syut setiap waktu, dan tidak pernah diminta untuk seperti itu terus dalam seluruh skenario yang ada. Terbatasi olah biaya, kesediaan waktu aktor, lokasi, dan konsumsi, sutradara melakukan syuting filmnya dalam penggalan adegan terpisah pada waktu berbeda dan berusaha keras sesuai urutan yang ada dalam skrip/naskah. Adalah satu hal biasa untuk mengambil gambar adegan terakhir pada syuting pertama, kemudian diikuti adegan lain, tidak perlu mengikuti urutan dalam skrip. Tokoh khusus dalam produksi film memunculkan perubahan konstan dan pengubahan sudut pandang selama proses pengambilan gambar, oleh karena itu sutradara dan aktor jarang, atau hanya sesekali, melakukan latihan berkelanjutan dari awal sampai akhir.

Semua hal baik, di dalam film manapun, merupakan rangkaian kebetulan (Robert Altman)


==== bersambung ====


Share This :

0 komentar