BLANTERWISDOM101

Gaya Akting 4

Rabu, 07 Desember 2022

 


Oleh: Ozdemir Nutku

Diterjemah oleh Eko Santosa dari: http://www.tiyatrokeyfi.com/gorusler/styleinacting.html

Pencarian dan memainkan topeng yang tepat adalah, kemudian, merupakan tugas fundamental aktor dalam mendekati gaya permainan dalam rangkaian peristiwa teatrikal. Apakah tokoh peran tersebut realistik atau berasal dari perspektif kontemporer berdasar waktu atau lingkungan sosial, tugas tersebut tidaklah berbeda. Di dalam teater karakter yang satu sama nyatanya dengan karakter yang lain; keduanya memainkan fungsi dan melayani kebutuhan lakon. Aktor menyingkap kebutuhan perwatakan topeng, yang dibatasi oleh keadaan atau kondisi peristiwa, di dalam teks. Perasaan tokoh adalah perasaan aktor, dan gestur tokoh adalah gesturnya, dalam makna bahwa aktor adalah material (wujud fisik) yang menampakkan perasaan dan gestur yang diciptakan. Untuk itu, meskipun aktor menggunakan dirinya dan memainkan dirinya dalam menciptakan tokoh, ia tidak bisa begitu saja memproyeksikan kepribadiannya; ia memainkan topeng tokoh, namun dengan keyakinan diri yang absolut. Sebagaimana halnya tidak ada 2 aktor yang benar-benar sama, maka tidak akan pernah juga 2 topeng benar-benar sama, meskipun keduanya melayani permintaan yang sama (tuntutan lakon). 

Sekali lagi, gaya bukanlah usaha untuk melayani penciptaan ulang sejarah yang kosong atau meniru konvensi lama. Saya menyadari bahwa hidup bergerak secara konstan dan bahwa reinterpretasi adalah fungsi tak terelakkan dari perjalanan waktu. Kita tidak pernah dapat menemukan istilah yang tepat dengan sensibilitas yang berasal dari periode yang lain tetapi kita bisa bersetuju untuk tidak berharap dapat memahami teater dalam periode tertentu melebihi periode hidup kita jika kita tidak berusaha menyingkap kebenaran melekat yang tertulis dalam teks.

baca juga : Gaya Akting 3

Saya tak hendak mengatakan, jenis lakon tertentu harus ditampilkan hanya dengan satu cara. Saya mengatakan bahwa gagasan tentang bagaimana hal ini mesti dilakukan adalah masuk akal. Hal ini merupakan pemahaman berharga dan paling tidak merupakan titik langkah bagi aktor dalam mendekati teks agar tidak terpeleset ke dalam kesementaraan rentang waktu atau latar belakang sosial yang mereka miliki kini. Hal ini membantu mereka, para aktor, untuk menyingkap jenis lakon apa yang mereka mainkan. Saya menyadari bahwa interpretasi merupakan hak prerogatif sutradara. Akan tetapi, cobalah ambil contoh yang ekstrem, meskipun seorang aktor mengenakan busana modern dalam memainkan lakon antik (klasik) di sebuah ruang teater kecil, ia mungkin akan lebih baik dalam membuat pilihan tepat dan cerdas jika memahami kebenaran melekat konvensi lakon yang dimainkan dan memahami bagaimana tingkah laku dibentuk oleh tatanan yang semestinya ditampilkan.

Sebuah lakon merupakan susunan ketat konteks atau permainan, dengan peraturan absolut, untuk mempertinggi dan mengintensifkan lakuan yang ada. Seorang aktor mesti memahami peraturan (keadaan terberi) permainan (teks dari peristiwa teatrikal) untuk memahami dan melakukan aksi. Seorang aktor mesti mengadaptasi proses permainannya dalam keadaan yang berbeda-beda. Di dalam olah raga, keterampilan yang sama dibutuhkan untuk – ketepatan waktu, koordinasi, kelenturan, keseimbangan, kecepatan – tetapi aturannya sangat berbeda. Dalam cara yang sama, seorang aktor mengusung keterampilan dan teknik dalam bermain, tetapi aturan untuk komedi tingkat tingi berbeda dengan aturan dalam lakon Shakespeare atau Brecht; semuanya merupakan permainan yang berbeda. Kita mesti memahami aturan sebelum kita memainkan permainan dengan baik, dan peraturan tersebut ada di dalam teks lakon, dan keadaan terberi merupakan kata kunci bagi aktor untuk memahami dan memainkan gaya.

Saya mulai dengan menyarankan proses akting yang dimulai dari rangsangan menuju aksi, dan dari aksi menuju peristiwa. Hal ini paralel dengan metode penyingkapan gaya: bergerak dari sensibilitas menuju topeng, dan kemudian menuju permainan. Dalam memberikan rasa kepada aktor atas sensibilitas yang mendasari gaya dan, melalui latihan-latihan, untuk menunjukkan bagaimana sensibilitas menjadi realitas fisik, saya lebih terkonsentrasi pada esensi dan pengamatan fisik daripada detail-detail kecil. Dengan kata lain, seorang aktor mesti diperkenankan membuat pilihan-pilihan dalam kerangka kerja yang berhubungan dengan gaya.

2500 tahun lalu, Epictetus berkata kepada aktor, “Ingatlah, anda seorang aktor dalam drama sebagaimana yang lain melakukannya. ... Pekerjaan anda adalah memainkan karakter yang telah ditetapkan dengan baik: untuk memilihnya, itu merupakan hal yang lain”, dan hal tersebut masih terasa relevan sampai hari ini. (**)

Share This :

0 komentar