BLANTERWISDOM101

Antara Makna dan Budaya Kerja: Catatan tentang Tata Panggung - 4

Kamis, 14 April 2022

 

Oleh: Eko Santosa

3. Produksi dan Reproduksi

Proses penciptaan karya teater secara keseluruhan dapat disebtu sebagai kerja produksi. Hal ini memiliki makna bahwa karya teater memang dicipta dan bukan sudah ada sebelumnya baru kemudian dijajakan seperti sebuah barang. Meskipun karya tersebut pernah diproduksi sebelumnya dan kemudian akan diproduksi ulang, tetap saja ia akan mengalami ubahan. Teater adalah satu karya yang hidup sehingga ia tidak bisa ditetapkan. Di dalam seni peran, penampilan aktor dalam setiap pentas mestilah berbeda meskipun tokoh dan cerita yang dimainkan sama. Artinya, sebaku apapun akting itu coba ditetapkan oleh sutradara kepada aktor, pada akhirnya aktorlah yang menentukan ia akan tampil seperti apa, dan penampilan ini tidak akan sama persis dari hari ke hari. Bahkan, dalam konsep pemeranan modern disyaratkan bahwa gaya permainan atau akting tidak boleh ditetapkan, dibakukan dengan ukuran pasti. Mengacu pada hal ini, maka memang karya teater itu diproduksi.

baca juga :
Antara Makna dan Budaya Kerja: Catatan tentang Tata Panggung-1
Antara Makna dan Budaya Kerja: Catatan tentang Tata Panggung-2
Antara Makna dan Budaya Kerja: Catatan tentang Tata Panggung-3

Terkait dengan hal-hal teknis yang melingkupi ruang dan gaya gerak aktor, seperti tata panggung, musik, dan lampu, konsep produksi tetap menjadi pegangan. Artinya, meskipun pentas diselenggarakan dalam beberapa hari atau minggu, namun ada saja penyesuaian yang mesti dilakukan. Namun demikian, bahasan produksi khusus untuk tata panggung bukan dalam rangka mengkaji penyesuaian-penyesuaian yang mesti dilakukan dalam hari-hari pementasan, melainkan bagaimana memproduksi karya tata panggung dalam pementasan teater. Oleh karena itu, konsep produksi atau penciptaan mesti menjadi pegangan. Sebab kalau tidak, tata panggung akan tergelincir ke dalam budaya reproduksi. 

Budaya produksi merupakan roh dari teater modern. Setiap kelompok teater, termasuk teater amatir, akan mudah memahami proses produksi yang mesti dilakukan. Hal ini dikarenakan, prosedur operasi standar produksi teater dilatihkan mulai dari awal. Umumnya pembelajaran produksi dilakukan secara praktis di mana anggota dibagi ke dalam satuan-satuan kerja yang umumnya dipilah ke dalam artistik dan keproduksian. Namun demikian, tidak semua paham bahwa produksi adalah upaya menciptakan sesuatu. Berbagai macam cara, metode, teknik, dan strategi ditempuh untuk mewujudkan hal tersebut.

Menjadi pertanyaan besar, apakah jiwa produksi ini juga merasuk ke dalam bidang artistik, dalam hal ini tata panggung? Secara umum produksi dipahami melalui proses yang dilalui yang kerjanya diatur berdasarkan struktur atau kepanitiaan. Struktur kerja yang dibentuk ini sedikit banyak mengaburkan maka “produksi” dalam konteks penciptaan di semua bidang artistik. Dengan adanya struktur, maka kerja teater seolah digambarkan sebagai kerja hierarkis di semua bidangnya. Dalam hal majanemen keproduksian hal ini adalah keniscayaan, namun semestinya tidak demikian. Masing-masing bidang artistik memiliki hak untuk menciptakan karya. Sutaradara menciptakan karya yang berupa arahan laku pemain berdasar konsep. Pemain menciptakan karya yang berwujud pemeranan sesuai tokoh yang dimainkan. Penata artisk menciptakan karya tata artistikanya untuk mendukung pementasan. Ketika kerja bidang artistik ini terpengaruh kuat dengan struktur kerja, maka pola instruksional berdasarkan hirarki yang dijalankan. Sutradara menyuruh pemain melakukan “ini-itu”, meminta kepada penata panggung untuk membuat “ini” dan “itu”, dan seterusnya. Akhirnya, seluruh pekerja bidang artistik tidak memiliki kemandirian selain mewujudkan apa yang dikehendaki oleh sutradara.

Sifat hirarkis di bidang artistik dalam sebuah produksi teater semacam ini menjadikan penata panggung sebagai reproduser. Kerja pokoknya hanya mereproduksi, sejak dari gagasan yang sudah mulai diarahkan, bahkan ditetapkan oleh sutradara. Keadaan ini, jika tidak diluruskan, maka akan berlangsung terus sehingga penata panggung berakhir menjadi tukang saja. Anehnya, model kerja seperti ini banyak sekali terjadi. Penata panggung diakui karena keahliannya sebagai tukang. Untuk membuat dirinya muncul sebagai pekarya yang benar-benar mandiri dalam mencipta memerlukan jalan panjang yang dimulai dari sebuah kesadaran, baik itu kesadaran akan makna “produksi”, maupun kesadaran dalam diri penata panggung sendiri bahwa ia adalah pekarya yang memiliki gagasan, konsep, dan kemampuan untuk mencipta dan bukan sekedar tukang. Ketika kesadaran ini sudah dimiliki, maka kerja yang dilakukan kemudian adalah “produksi” dan bukan “reproduksi”.

======= bersambung ===============


Share This :

0 komentar