BLANTERWISDOM101

Perbincangan Seputar Teater - 7

Kamis, 03 Juni 2021


Oleh: Eko Santosa

7. Pencapaian pribadi dan kerja kelompok 

Keberhasilan pencapaian pribadi sering berakhir dengan meremehkan orang lain. Menganggap semua orang kurang piawai dan oleh karena itu kehendaknya mesti dipenuhi. Hal semacam ini sering dijumpai saat perbincangan dalam atau antarkomunitas. Seseorang seringkali tampil dan menceritakan capaian pribadinya dalam sebuah perbincangan, umumnya apa-apa yang ia anggap sukses di masa lalu (sudah terjadi). Kemungkinan maksudnya untuk memberikan motivasi, namun seringkali justru terjebak pada keinginan untuk diakui. Nah, ketika keinginan ini mencapai tujuan di mana orang tersebut mendapat pengakuan, maka keakuan tiba-tiba muncul dan umumnya setelah itu bertahan sangat lama. Artinya, orang tersebut kemudian lebih mengedepankan aku-nya ketimbang capaian kualitatif yang pernah diraihnya. Akhirnya, ukuran capaian ini seolah menjadi tetap, padahal secara kualitatif capaian-capaian dalam bidang pekerjaan selalu akan berubah tolak ukurnya.

baca juga : Perbincangan Seputar Teater - 6

Ketika perbincangan sudah sampai pada kondisi seperti ini, maka yang terjadi kemudian, dalam jangka waktu tertentu jika tidak berubah, kultus individu itu muncul, ikhlas ataupun tidak. Kultus ini menempatkan orang tersebut menjadi patokan kualitas atas segala hal yang berhubungan dengan teater. Bagi kelompok atau komunitas, orang ini kemudian menjadi sumber pengetahuan. Sementara bagi orang tersebut, capaian pribadinya hingga menjadi kultus mengantarkannya pada tingkat tertinggi di mana orang lain selalu berada di bawahnya. Riuh-rendah perbincangan kemudian selalu akan dikonfirmasikan pada orang tersebut sebagai sumber keunggulan. Atas posisi yang semacam ini dan demi mempertahankan sebagai yang serba unggul, maka tidak aneh kemudian ketika penilaiannya pada capaian orang lain selalu rendah. Ya, orang tersebut dengan mudah tergelincir untuk merendahkan usaha dan capaian orang lain demi menjaga posisinya tetap berada di atas.

Dalam perjalanannya, kultus semacam ini akan melahirkan gap-gap dalam kelompok. Gap terjadi antara kelompok yang selalu percaya pada orang tersebut dan yang mulai meragukannya. Umumnya kelompok yang mulai ragu ini adalah kelompok yang mau membuka diri dan berusaha untuk mencoba hal-hal baru. Dengan membuka diri, maka patokan kualitas atau nilai-nilai baru dapat dipastikan akan muncul. Dengan membuka diri, maka berbagai macam jenis pertunjukan teater dapat disaksikan, diapresiasi, dan dijadikan study. Sementara orang yang telah dikultuskan tadi, merasa nyaman di satu tempat, sehingga kurang atau bahkan sama sekali tidak membuka diri terhadap hal-hal baru. Atau, orang tersebut cenderung menolak kebaruan di mana banyak hal yang tak dikuasainya, baik secara pengetahuan maupun pengalaman. Hal ini dapat membahayakan bagi kedudukan dirinya. Dalam suasana yang demikian, perbincangan antarkomunitas kemudian menjadi kurang sehat dan itu semua bermula dari pencapaian pribadi seseorang di masa lalu yang terlalu diunggul-unggulkan.

Sementara itu, jika dipahami secara mendalam, pencapain pribadi seseorang dalam teater dapat terjadi karena adanya kerja kelompok. Teater sebagai seni kolaboratif, memang mensyaratkan adanya kerja bersama antarbidang untuk mencapai kualitas produksi yang baik. Dengan demikian, tidak akan pernah ada capaian pribadi murni yang mana hanya orang tersebut saja yang berjuang secara mandiri dalam segala hal untuk mencapai kesuksesan. Ketika seseorang yang dianggap paling unggul dalam satu komunitas memahami hal ini, maka kultus yang dialamatkan bisa diubah secara bijaksana menjadi semacam sumber belajar bersama. Artinya, orang tersebut tidak begitu saja menerima keunggulan diri atas capaian masa lalu, melainkan memahaminya sebagai sebuah hasil akibat adanya kerja bersama dalam kelompok. Oleh karena itulah, keunggulan pribadi yang dicapai dapat dijadikan pemicu semangat untuk terus melanggengkan kerja kelompok dalam teater. Dengan demikian, maka sangat dimungkinkan munculnya pribadi-pribadi unggul dalam bidangnya ketika kerja kelompok diteguhkan. Selain itu, perbincangan antarkelompok pun menjadi sehat karena selalu diselimuti dengan semangat belajar bersama.
=== bersambung====

Share This :

0 komentar