BLANTERWISDOM101

Praktik Penataan Panggung

Rabu, 09 November 2022


Oleh: Dr. Hsien-Hui Lee

diterjemah secara bebas oleh Eko Santosa dari: www-ms.cc.ntu.edu.tw/~theatre/course/th6_300/th6_300.htm

Sebuah sketsa desain tata panggung dapat menampakkan keindahan sempurna namun juga bisa tidak berguna sama sekali. Hal ini dikarenakan sebuah desain tidak hanya hadir di atas kertas tetapi juga bisa (mungkin untuk) diwujudkan. Setiap desain tata panggung harus memenuhi empat fungsi wajib untuk diwujudkan lebih dari sekedar sebuah gambar yang indah. Seorang desainer harus mempertimbangkan kebutuhan sutradara, aktor, keperluan konstruksi, dan dana serta waktu tersedia.

Kebutuhan Sutradara 

Desain tata panggung harus bertemu dan sesuai dengan keinginan sutradara. Bentuk tata panggung harus didesain agar dapat mengakomodasi blocking para pemain dan keperluan lainnya yang diinginkan oleh sutradara. Jika seandainya sutradara menghendaki tokoh utama wanita untuk masuk dari pintu besar di bawah tangga, maka desainer tata panggung harus mampu mewujudkannya serta meletakkan posisi pintu tersebut secara tepat. Sutradara dan penata panggung mendiskusikan hal-hal yang terkait kebutuhan penyutradaraan pada tahap awal produksi sehingga penata panggung mendapatkan gambaran jelas untuk digunakan dalam kerja perancangan. 

Kebutuhan Aktor 

Untuk memenuhi kebutuhan aktor, tata panggung mesti berfungsi secara baik, efisien, dan terencanakan. Artinya, dengan tata panggung yang ada, aktor harus memiliki kemudahan dalam berkonsentrasi untuk menampilkan perannya secara baik. Hal terakhir yang mereka perlukan adalah menjauhkan kemungkinan atas terpecahnya konsentrasi aktor karena lantai yang licin, pintu yang sulit terbuka, jendela yang macet sehingga sulit ditutup, dan lantai panggung yang bergoyang ketika diinjak.

Konstruksi yang Diperlukan dari Desain

Setiap desain tata panggung memerlukan teknik tersendiri ketika dikonstruksikan. Kompleksitas tata panggung akan berkaitan secara langsung dengan kerumitan desainnya. Unsur-unsur dalam desain, seperti tangga melingkar atau ruang bertingkat, mungkin akan lebih menantang secara konstruksi sehingga tidak bisa dikerjakan melalui teknik yang biasa. Desainer harus memperhatikan hal ini dan harus memiliki batasan bagaimana setiap bagian dapat dikonstruksikan dan dipasang. Akan sangat membahayakan akibatnya bagi produksi ketika desainer dan sutradara merencanakan penggunaan alat, seperti elevator atau gerbong pemindah set berukuran besar atau pintu putar, dan pada saat latihan teknik atau gladi bersih diketahui bahwa alat tersebut tidak dapat digunakan sebagaimana mestinya.

Kebutuhan teknis tambahan akan sangat diperlukan karena tata panggung mesti portabel dan desainer merancang secara khusus bagaimana agar set dapat dibongkar-pasang dengan mudah. Meskipun lakon hanya membutuhkan set untuk satu lokasi tetap saja harus dibuat portabel. Hal ini dikarenakan pertunjukan yang sama sering dilakukan di panggung berbeda dalam sekali produksi sehingga set harus mudah dibongkar-pasang. Sementara itu untuk keperluan banyak lokasi adegan dalam lakon, teknik pembuatan set harus diperhitungkan dengan cermat sekaligus mempertimbangkan ketersedian ruang di sisi kanan-kiri panggung untuk penyimpanan set selama pementasan.

Sebelum penyusunan konstruksi dimulai, desainer diharuskan mencermati kembali gambar rancangan bersama penata lampu untuk memastikan bahwa semua set akan mendapatkan pencahayaan yang sesuai serta dapat dikerjakan secara efektif. Kadang-kadang, beberapa prosi dari desain tata panggung mengalami penyesuaian guna memberikan ruang bagi penata lampu untuk memasang lampu dan memusatkan pencahayaan. Set dengan atap penuh akan menghalangi penggunaan lampu atas dan samping, namun jika penata panggung mampu menyediakan tempat khusus untuk memasang lampu di atas atap tersebut, maka beberapa bagian dari atap dapat dipotong terbuka untuk memasukkan cahaya.

Waktu dan Biaya 

Administrasi terkait jadwal riil pembuatan konstruksi dan kebutuhan anggaran bervariasi antara kelompok teater satu dengan yang lain. Namun demikian, desainer tata panggung bertanggung jawab penuh atas waktu yang diperlukan dalam pembuatan tata panggung, perabot, dan peranti pelengkap lainnya. Dalam hal menghasilkan desain yang bagus sekaligus mungkin untuk diwujudkan dengan dana yang ada juga merupakan tanggung jawab desainer tata panggung.

Pada teater profesional di New York, biaya pembuatan tata pangung dan waktu yang diperlukan (jadwal) untuk membangun konstruksi ditentukan secara langsung dan terbuka. Desainer tata panggung mengajukan rancangan kepada produser yang kemudian memberikan persetujuan dan kemudian menawarkan pembuatannya kepada beberapa studio-studio tata artistik. Kontrak kerja ini umumnya akan jatuh pada studio yang mengajukan pembiayaan terendah. Jika seandainya biaya riil yang diperlukan ternyata lebih tinggi dari yang diperkirakan, maka produser dan desainer tata panggung berdiskusi untuk melakukan pemotongan anggaran. Hal ini secara umum akan berakibat pada pengurangan beberapa bagian dari desain atau desain dibuat ulang dengan berbagai variasi bahan dasar untuk mengurangi biaya keseluruhan konstruksi.

Pada organisasi profesional di daerah yang bisanya membuat sendiri tata panggung mereka, dan juga di komunitas teater atau sekolah, tangung jawab untuk memformulasikan biaya dan waktu pengerjaan tidak begitu jelas dibebankan kepada siapan. Umumnya, produser atau direktur tata kelola memberikan batasan besaran biaya yang dikeluarkan untuk pengerjaan tata panggung mulai dari konstruksi, finishing hingga pemasangannya, termasuk penyediaan perabot dan peranti yang diperlukan dengan lama waktu tertentu. Untuk menyelesaikan pekerjaan yang kompleks ini, desainer tata panggung akan selalu berkomunikasi dengan direktur teknik. Keseluruhan proses pembiayaan akan segera disesuaikan atau mengalami penambahan jika desainer dapat mengerjakan tata panggung secara tepat dalam waktu yang ditentukan dengan biaya yang disediakan.  (**)

 

Share This :

0 komentar