BLANTERWISDOM101

Teori Desain Skenografis

Rabu, 19 Oktober 2022

 

Oleh: Dr. Hsien-Hui Lee

diterjemah secara bebas oleh Eko Santosa dari:
www-ms.cc.ntu.edu.tw/~theatre/course/th6_300/th6_300.htm

Sebelum kita meninjau beberapa elemen yang dapat digunakan untuk menghasilkan desain berkualitas, beberapa peringatan perlu disampaikan. Berhati-hatilan dengan apa yang disebut aturan dalam desain karena sesungguhnya tidak ada satupun aturan untuk itu. Apa yang dapat berlaku dalam satu desain belum tentu berlaku dalam desain yang lain. Jika setiap pilihan situasi desain adalah rasional, keputusan yang penuh pertimbangan, maka tidak perlu ada aturan, seperti “Dilarang mengecat set dengan warna putih”, “Jangan menggunakan wana cahaya hijau”, “Dilarang mengenakan kain taffeta (tenun sutra atau serat sintesis) di atas panggung”, dan seterusnya. Dalam khasanah kreativitas, aturan-aturan ini justru melemahkan karena memberikan batasan pada kebebasan dan kemampuan individu untuk menentukan dari keseluruhan pengetahuan dan pengalaman yang dimiliki.

Meskipun kita mesti juga waspada terhadap aturan yang bersifat mana suka, sebagian besar desain tata artistik yang baik mematuhi sebagian besar prinsip yang akan dibahas dalam tulisan ini. Sebagai tambahan dalam skenografi, desainer artistik bertanggung jawab pula dalam merancang peranti dan perabot panggung. Peranti dan perabot merupakan elemen penting dari keseluruhan gambar panggung, dan kesemuanya akan dibahas dalam tulisan ini. Di black-box (panggung studio) dan teater arena, mebel merupakan perabot yang sangat signifikan sebagai elemen visual utama dari desain tata artistik karena papan hias (flat), set gantung (drops), dan elemen vertikal lain dalam tata panggung secara umum tidak diperlukan.

Suasana hati dan semangat lakon

Satu petunjuk yang dapat berlaku untuk semua lakon adalah bahwa desain artistik merupakan ekspresi dari suasana hati dan semangat lakon. Dalam konteks ini, suasana hati lakon merujuk pada kualitas emosi yang paling dominan dalam produksi. Sementara semangat lakon secara umum diinterpretasikan dengan merujuk pada konsep produksi – sebuah cara di mana tim produksi yang terdiri atas produser, sutradara, penata artistik, busana, cahaya, dan suara memutuskan bagaimana lakon tersebut hendak dipresentasikan.

Untuk mengekspresikan suasana hati dan semangat lakon dalam desain artistik, seorang desainer perlu memadukan beberapa elemen yang memberikan sugesti karakter emosional dari lakon. Misalnya, di dalam lakon yang romantis, kemungkinan penggunaan lengkung lembut untuk menggambarkan garis tata panggung lebih tepat dan lukisan latar belakang dapat menerapkan warna-warna pastel untuk membangkitkan kualitas romantik lakon. Namun jika lakon bersifat tragedi, penggunaan garis yang tegas, sudut pandang tajam, dan warna-warna gelap akan lebih mengesankan suasana hati yang berat dan mendalam selaras dengan konsep produksi yang ingin diwujudkan.

Andaikan saja sebuah karya melodrama lama akan diproduksi. Lakon tersebut memliki banyak situasi yang sangat serius - tokoh pahlawan wanita, ibunya yang janda, dan adiknya yang sakit terusir dari rumah kontrakan karena tidak bisa membayar – dan hampir semua karakter memliki kondisi ketidakberuntungan yang sama. Ketakbahagiaan, kesedihan, dan kekecewaan terlihat sebagai kualitas emosi lakon secara keseluruhan. Namun demikian sutradara justru tidak ingin menegaskan kualitas emosi lakon melainkan ingin mengubah nada emosinya. Dia, untuk itu, mesti memilih berkonsentrasi apda aspek komik yang ada pada lakon. Situasi serius dan dramatis lakon akan mengalami pembesaran atau sedikit dilebih-lebihkan sehingga terkesan tidak tampak nyata dan dengan demikian keseluruhan lakon akan berubah.

Karya desain artistik, dalam hal ini, harus menjadi cermin dari perubahan suasana hati dan semangat produksi. Pada semangat lakon yang asli kemungkinan tata panggung akan terlihat penuh kegundahan dan warna yang digunakan cenderung gelap. Namun karena interpretasi yang berbeda tersebut, tata panggung dapat dibuat lebih sederhana dan sedikit dilebih-lebihkan sehingga terkesan bercorak kartun yang mendukung semangat pelebihan aksentuasi dan secara artifisial hal ini akan terlihat pada akting dan perwujudan lakon di atas panggung.

=== bersambung ===

#teater #akting #aktor #seni #ekosantosa #theaterbyrequest

Share This :

0 komentar