BLANTERWISDOM101

Perkara Jebakan Kreativitas Berteater

Kamis, 28 Oktober 2021


Oleh: Eko Ompong

Para pekarya seni teater adalah orang-orang kreatif. Karena kreasinyalah pementasan teater dapat disajikan di depan penonton. Proses penciptaan karya adalah satu rangkaian aktivitas kreatif yang memerlukan kebersediaan waktu, tenaga, dan terutama pikiran, bagi para pelaku teater. Oleh karena itu, tidak semua pelaku teater mampu menjadi pekarya konsisten. Banyak yang bertumbangan di tengah jalan dan memilih bidang tertentu dalam teater yang tak menguras tenaga dan pikiran. Bahkan dalam kehidupan budaya zaman sekarang ini, banyak ditemukan pelaku teater yang cenderung pragmatis dalam artian menempatkan dirinya sekedar menjadi pekerja. Mereka lebih senang menerima job atau disewa sebagai tenaga yang mana kerjanya telah ditentukan dan tidak memerlukan elan kreatif untuk melakoninya. Hal ini merupakan penyikapan realitistis atas fakta perkembangan industri teater yang ada. 

Pilihan pragmatis bukanlah hal yang keliru karena bagaimanapun juga hidup seorang pekerja teater mesti terus berlanjut. Namun demikian, dalam hal kerja kreatif, para pekarya teater lebih banyak memiliki pertimbangan artistik ketimbang pragmatis. Hal ini dikarenakan, karya seni teater bukanlah sekedar hiburan atau ceramah moral dalam bentuk pementasan. Di dalam sebuah pementasan, nilai-nilai kehidupan disajikan secara harmonis sehingga menimbulkan kesadaran bagi penonton. Karena tuntutan semacam ini, kerja kreatif pekarya seni teater benar-benar tidak bisa dikatakan ringan. Nilai-nilai yang ingin disampaikan tidak saja hanya tersaji melalui dialog para pemain namun juga melalui simbolisasi perangkat artistik pementasan yang ada.

Di dalam perjalanan kreatifnya, banyak lahir pekarya seni teater yang mampu melahirkan kesadaran tertentu bagi para penontonnya. Namun, di sisi lain, banyak pula pekarya seni teater yang terjebak dalam kreativitas terstruktur atau berpola yang akhirnya menyeret mereka ke dalam langkah kerja tetap. Pada tahap ini pekarya teater tersebut telah terkebak dalam kreasi yang sebenarnya tidak beranjak kemanapun.  Akan tetapi, ia tetap merasa bahwa usaha kreatifnya itu tetap berkualitas.

Jebakan kreativitas berteater sebenarnya hadir dari rasa tidak perlu lagi belajar dalam diri pelaku teater. Ia merasa bahwa segala modal kreatif telah ia miliki sehingga tinggal menerapkannya dalam proses pembuatan karya. Kondisi semacam ini kemudian berjalan menahun sehingga pada akhirnya proses kreatif yang dilakukan telah terformat dan bisa dikatakan tak ada lagi kreasi selain hanya membatukan kebiasaan. Bahkan ketika pada satu saat kesadaran akan satu proses yang stagnan dan senantiasa dijalani ini muncul dan mengaharuskan dirinya untuk kembali melakukan pencarian, rasa malas beranjak menghantui. Ketika rasa malas ini tidak bisa dilawan, maka proses kreatif yang telah terformat itulah yang akan kembali dilakukan. 

Ada ketakutan akan ukuran kualitas pada hasil jika ia melakukan hal di luar format. Ada keengganan untuk melacak kembali mengapa proses kreatif yang sebelumnya bebas itu menjadi berpola. Ada kegamangan untuk kembali belajar dan melakukan kesalahan-kesalahan demi mencapai artistika baru. Semua ini pada akhirnya akan benar-benar menjebak dan melenakan sehingga proses kreatif nan toxic itu terus dipertahankan. Padahal, karya-karya yang dihasilkan sebenarnya sudah tak lagi bernilai, dalam arti menarik minat penonton. Tidak lagi menimbulkan kesadaran. Namun demikian, atas nama seniman yang seringkali disematkan di pundak pelaku teater, maka kemandegan kreatif ini kemudian diberi label berat dan dalam, yaitu idealisme. Ya, pelaku teater yang sebenarnya telah terjebak dalam kreativitas terformat itu akan menasbihkan dirinya sebagai seniman idealis dengan ciri-ciri tertentu dalam penggarapan karya. Oleh karena hal idealis inilah, maka ia tak akan mengubah proses kreatifnya. Namun, apakah benar bahwa hal itu adalah idealisme atau hanya tameng untuk bergeming? Hanya orang itulah yang tahu.

== bersambung ==


Share This :

0 komentar