BLANTERWISDOM101

Pencarian Dalam Teater

Kamis, 07 Oktober 2021

 


Oleh: Eko Santosa

Kata “pencarian” pernah lekat dalam diri dan pada pelaku seni. Kata ini menggambarkan proses awal pelaku seni dalam menciptakan karya. Selintas, “pencarian” sepadan dengan observasi. Namun sesungguhnya, kata ini secara umum memaknai tindakan mencari, mengamati, dan mengeksplorasi serta eksperimentasi. Karena begitu luasnya makna “pencarian” ini, maka tidak mengherankan ketika ada beberapa orang yang kurang bisa membedakan antara proses observasi dan eksplorasi. Mereka menganggapnya observasi adalah eksplorasi. Hal ini terjadi karena penggunaan kata “pencarian” yang memang mencakup kedua proses tersebut. Kekeliruan ini sebenarnya tidak menjadi masalah ketika disikapi sebagai bagian integral dalam “pencarian”. Namun akan menjadi masalah ketika setiap langkah dalam proses pencarian mesti dijabarkan. Selain itu, pemaknaan atas observasi sama dengan eksplorasi karena masih dalam lingkup pencarian, menandakan bahwa orang tersebut termasuk senior.

Pada masa sekarang, istilah “pencarian” mungkin tak lagi populer dan sudah tergeser oleh observasi, eksplorasi, dan eksperimentasi dengan pemaknaan terpisah. Kata “pencarian” sekarang ini lebih dekat pada tindakan untuk menemukan gagasan atau ide penciptaan. Namun, lepas dari pemakanaan kata per kata, atau langkah-langkah dalam proses menciptakan karya seni, “pencarian” lebih memberikan kedalaman makna, dan mudah untuk dipahami. Segala hal dan proses dalam penciptaan karya seni yang belum sampai pada produk final dapat dimaknai sebagai pencarian yang mana sekarang ini dikenal sebagai produk (karya) in the making. 

Proses atau tahapan pencarian di dalam teater, jika dirunut sejarahnya, melahirkan berbagai macam konsep, bentuk, dan gaya pementasan teater. Tokoh teater dunia sampai saat ini tidak pernah berhenti untuk melakukan pencarian demi melahirkan dan mengembangkan karya teater. Proses ini tentunya memakan waktu, tenaga, pikiran yang sama sekali tidak bisa dikatakan ringan. Bahkan ada tokoh teater yang tidak pernah berhenti dalam pencarian, yaitu Meyerhold. Banyak konsep teater yang ia cetuskan sehingga ia dijuluki sebagai bapak teater modern. Banyak singgungan atau bahkan benturan teori dan pengalaman yang ia lakukan untuk menciptakan karya teater. 

Semangat tak pernah padam untuk terus mencari semacam ini semestinya terus dipelihara sehingga akan lahir karya-karya teater anyar nan menyegarkan. Namun demikian, dalam berbagai pengalaman, tidak banyak kalangan yang mau bersusah-payah melakukan hal-hal demikian. Banyak kelompok teater yang terjebak dalam kenikmatan untuk menyajikan konsep pementasan yang itu-itu saja. Banyak kelompok teater yang melenakan dirinya dalam bentuk dan gaya pementasan yang tetap dari produksi ke produksi. Makna pencarian kemudian menjadi berhenti atau hanya sekedar sampai pada ide produksi untuk mementaskan naskah tertentu saja. Sementara proses penciptaannya telah terstruktur. Akhirnya, sama sekali tidak ada hal baru yang ditawarkan selain cerita. 

Pada kelompok yang telah menetapkan diri dengan bentuk dan gaya tertentu, ukurannya kemudian adalah kualitas tampilan atas bentuk dan gaya tersebut. Semua proses menuju ke arah kualitas yang dengan sedirinya terstandar. Tidak lagi perlu diributkan siapa yang menentukan standar karena biasanya itu menjadi wilayah privat pemimpin/pembina kelompok. Proses pencarian hampir tidak bisa dilakukan selain usaha untuk memenuhi kualitas tertentu tersebut. Di sini, konsep mengenai observasi dan eksplorasi dilakukan dalam rangka pemenuhan standar. Artinya, jalan pengamatan dan penjelajahan telah terstruktur sehigga seorang aktor dalam kelompok ini melakukannya hanya demi mencapai kualitas pemeranan yan telah dipatok. Aktor tersebut tidak akan bisa keluar dari struktur yang ada sehingga memampukan dirinya menemukan gaya akting pribadi. Hal yang sama juga berlaku untuk pendukung artistik lainnya. Semua bekerja untuk memenuhi standar yang ditetapkan. 

=== bersambung ===


Share This :

0 komentar